Surau 1 abad
Kantor /Pustaka S.Thawalib Lama
Rabu, 02 Juni 2010
Paradigma Pemikiran Modernisasi Islam
di Minangkabau
Oleh : Muhammad Ilham
Di Minangkabau, paradigma pemikiran modernisasi Islam, sebenarnya sudah muncul semenjak lahirnya puritanisasi sebagai pendobrak pemurnian pemahaman Islam orang Minangkabau yang sinkretisme. Namun, modernisasi Islam ini lebih berkembang ketika awal abad ke-19 seiring dengan, bergeraknya kaum agama membangun sekolah-sekolah agama modern di Minangkabau. Modernisasi Islam, lebih menekankan pada pembentukan karakteristik umat Islam untuk memanifestasikan hidup dengan konteks keberagamaan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, diperlukan pengajaran dan sisitem pendidikan agama yang signifikan terhadap tujuan tersebut. Maka dalam modernisasi awal ini, sangat kentara terjadinya pembaharuan-pembaharuan isntitusi, organisasi ke Islaman, seperti lahirnya madrasah-madrasah dengan pola modernis dan munculnya organisasi plat form Islam. Di Minangkabau, dimulai dengan menukar sistem surau yang tardisional dengan sistem pendidikan modern, yang mengenal kelasikan, berijazah dan memiliki kurikulum yang terarah. Di Padang Panjang misalnya, surau Jembatan Besi dengan duet tenaga pengajar yakni Haji Abdullah Ahmad dan Haji Rasul menjadi cikal bakal sekolah Thawalib. Eksistensi sekolah ini sangat berpengaruh di Minangkabau.
Pada masa modernisasi Islam awal ini, ada dua pendekatan yang dilakukan ulama untuk membangun ke Islaman umat, yakni pendekatan pendidikan dan pendekatan pergerakan. Pendekatan pendidikan; lebih tertuju pada perubahan idetional dalam generasi muda. Sedangkan pendekatan pergerakan, di dalamnya tercakup pembentukan jemaah dan institusi Islam yang progresiv, seperti organisasi-organisasi ke Islaman. Pendidikan yang dikelola oleh ulama-ulama konservatif ini, setidaknya telah melahirkan peta pemikiran ke Islaman Minangkabau sekaligus terjadinya pergeseran pemikiran Islam dari folk Islam ke modernisasi Islam. Lahirnya madrasah-madrasah modernis ini, secara langsung atau tidak langsung jelas menjadikan Minangkabau tidak lama mengalami kekosongan sistem pendidikan. Sementara itu, ulama pada masa modernisasi Islam ini terbagi menjadi dua kutup, yakni ulama kaum muda dan kaum tua. Ulama kaum muda yakni ulama-ulama modernis dan konservatif, biasanya ulama-ulama punya view oriented, dan mereka terpengaruh oleh konsep-konsep pembaruan dari luar. Sementara kaum tua, ulama yang masih bertahan dengan konsep-konsep surau masa lalu, serta masih mempertahankan tradisi ritualisasi-ritualisasi keguruan.
Bagi kelompok ulama modernisasi Islam, agama itu diaplikasikan secara realistis. Agama ditujukan untuk pemberdayaan umat secara keseluruhan. Dalam masa awal ini, konseptual itu belum sepenuhnya terkembang, karena masih terkendala oleh sistem penjajahan. Di samping itu, madrasah-madrasah yang dikembangkan hanya baru bergerak dengan sistem pendidikan yang teoritik keagamaan dan belum dilengkapi dengan skill education. Akibatnya, ketika terjadi perubahan terutama berkembangnya pasar dalam sistem ekonomi masyarakat Minangkabau, alumni surau-madrasah sulit mengikut perkembangan ini. Inilah salah satu kelemahan. Kedatangan Islam ke Minangkabau menjadikan surau sebagai tempat ritualisasi Islam, kemudian berkembang sebagai tempat pendidikan. Di institusi inilah, revilisme mpemikiran Islam pertama berlangsung di Minangkabau. Surau sebagai akademis ilmu agama orang Minang. Surau menjadi media diffusi Islam. Ulama-ulama mendirikan surau sebagai tempat penyebaran Islam. Murid-murid yang telah selesai menempuh pendidikan pun mendirikan surau di kampung halamnnya, sehingga Islam di Minangkabau cepat diakses oleh masyarakat. Sekaligus surau semakin populer sebagai media penyebaran Islam, dan yang penting adalah surau telah membentuk karakteristik masyarakat Minangkabau.
Gelombang surau ini, merupakan tonggak sejarah pemikiran Islam di Minangkabau. Dari surau ulama-ulama membangun think tank Islam. Surau menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan dan pemikiran ke Islaman orang Minangkabau. Corak dan karakteristik surau sangat ditentutakan oleh otoritas ulama surau. Ulama sebagai pemilik surau membangun tradisi suraunya secara tersendiri. Bahkan surau sangat identik dengan corak pemikiran ke Islaman seorang ulama. Otoritas keulamaan ini kentara terlihat dalam tariqat yang diamalkan oleh ulama tersebut.
Dengan tradisi tariqat ini pula sangat mudah mencari link antara surau yang satu dengan lainnya. Surau-surau yang mempunyai aliran tariqat syatariah akan berhubungan dan berkaitan secara emosional dengan penganut tariqat yang sama, begitu pula dengan surau yang menjalankan traiqat naqsyabandiah akan terus menjalin hubungan dengan surau yang sealiran dengannya. Keterkaitan aliran surau ini sangat mudah menjejaki tradisi ke Islaman yang berkembang pada surau, karena link pemikiran dan tradisi yang berkembang selalu menurut alur tradisi guru terdahulu. Tradisi guru menjadi panutan dan dikembangkan oleh murid atau pengikut-pengikut selanjutnya. Diffusi ini secara langsung atau tidak langsung telah mempengaruhi tingkat pengamalan keislaman masyarakat Pada masa ini ada dua kekuatan mendasar membangun tradisi pemikiran ke Islaman di minangkabau, pertama tradisi pendidikan surau dan kedua tradisi tariqat. Pada tradisi pendidikan surau, ulama adalah guru secara akademik, yang memberikan transfer knowledge. Yakni memberikan pengetahuan ke Islaman kepada murid-muridnya dengan sistem pendidikan kesurauan, atau dengan sistem salaf.
Ulama di Minangkabau pada masa-masa awal sangat terkait dengan tariqat. Tariqat suatu jalan menuju kedekatan dengan Allah. Tariqat di Minangkabau pertama kali di bawa oleh Burhanuddin dari setalah berguru di Aceh, kemudian suraunya di ulakan menjadi otortitas tariqat syatariah di Minangkabau. Tariqat, biasanya tidak terpaut pada guru dan murid saja tetapi sudah menyebar kedalam jemaah. Tariqat lebih banyak bersentuhan dengan bathin, dalam ritualisasinya diimami oleh ulama yang memiliki aliran tariqat baik naqsyabandiah maupun satariyah. Tariqat mempunyai ritualisasi ibadah salah satunya dinamakan dengan suluk. Di Minangkabau, ulama pertama kali mewarisi ilmunya di surau, Surau, dalam masa perkembangannya sekitar abad ke-18 dan ke-19 Masehi, merupakan laboratorium pendidikan bagi orang Minang. Ulama sekaligus pemiliki surau. Biasanya surau memiliki ciri khas ke ilmuan tersendiri, sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh ulama pemilik surau tersebut.
Sampai saat ini, sistem tradisional masih dijalani oleh ulama-ulama surau. Diantaranya, bisa ditemukan beberapa surau di daerah Pariaman sebagai wilayah pesisir dari alam Minangkabau. Di sini seorang ulama yang bergelar Tuanku mengajar di surau, dengan sistem yang belum berubah. Mata pelajarannya dan buku literatur yang dipakai pun masih seperti yang lama. Life style, kehidupan santrinya pun “ala” surau, yakni bermukim di surau. Santri diajak mandiri. Di samping itu, santri diperbolehkan untuk berjalan keliling untuk minta sedekah, dengan satu karung kain yang disandangnya. Di tengah masyarakat mereka di juluki oleh masyarakat dengan sebutan fakih atau orang surau. Malahan atribut mereka ini, menyimbolkan kesurauan. Di Minangkabau ulama merupakan tokoh kunci dalam membangun karakteristik Minangkabau yang berasaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Bansandi Kitabullah. Dari segi pemikiran, ulama sebenarnya telah membentangkan pemikirannya melalui institusi pendidikan yang didirikannya sendiri, terutama sekali melalui institusi pendidikan surau. Pendidikan dalam pergerakan eksistensi ulama sekurang-kurangya telah memberikan dua sumbangsih, yakni sebagai penyebaran aliran, ajaran agama Islam, dan kedua sebagai penyebaran pemikiran ulama itu sendiri. Penyebaran pemikiran ini, kemudian menjadi cikal bakal pergerakan dan kemudian membuat link guru dengan murid tidak terputus dan dapat ditelusuri. Dalam kultur link seperti ini, sangat mempercepat penyebaran Islam dan transformasi masyarakat Minangkabau dan secara tidak langsung, mereka ini kemudian juga memiliki kontribusi sebagai penggerak ”pendulum” sejarah nasional Indonesia.
:: beberapa sumber rujukan, diantaranya Silfia Hanani (2003) dan Duski Samad (2000)Rabu, 02
1Juni 2010
Syekh Ibrahim Musa Parabek (l. 1882)
Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang
"Matangkanlah Satu-Satu, Lalu Ambillah yang Lain Untuk dijadikan Perbandingan dan Jangan Menutup Diri Pada satu Mazhab Saja" (Syekh Ibrahim Musa Parabek)
Pada awal abad ke-20 M., Minangkabau merupakan daerah yang penuh dengan dinamika pergolakan sosial seperti pembaharuan pendidikan dan pemumian agama. Sejak pertengahan abad ke-19 M., interaksi Minangkabau dengan pusat-pusat dunia Islam makin bertambah lancar, sehingga pesantren yang mempertahankan tarikat dan sulukpun mulai mengalami perobahan pula. ini merupakan implikasi dari dinamika pemikiran agama Islam di Timur Tengah kala itu. Para pembaharu yang umumnya belajar di Mekkah, ketika pulang ke ranah Minangkabau, mereka secara kolektif melancarkan terobosan atas ketidakmurnian ajaran Islam yang dianut masyarakat Minangkabau. Ketika inilah muncul dikotomi Kaum Muda atau dikenal dengan kelompok pembaharuan dan Kaum Tua. Kaum muda terkesan progresif, sedangkan Kaum Tua terkesan konvensional dan konservatif.
Geliat Kaum Muda ketika itu menimbulkan berbagai kesan dan pertentangan. Salah satu bukti eksistensi Kaum Muda cukup signifikan di Minangkabau masa ini adalah tulisan Dt. St. Marajo dalam Majalah Utusan Melayoe tahun 1907 yang menulis artikel tentang pembaharuan agama di Minangkabau. Tulisan tersebut menyorot kiprah utama-ulama yang berada dalam "kubu" Kaum Muda. Dt. Marajo memberi julukan kepada mereka "Harimau Nan Salapan", sebagaimana julukan ini juga pernah diberikan kepada ulama-ulama par-excellent penyebar agama Islam awal di Minangkabau. Ulama-ulama Harimau Nan Salapan versi Dt. Sutan Marajo ini adalah : DR.Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), DR.H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, dan Syekh Mustafa Abdullah Padang Japang. Dalam konteks inilah, maka figur Syekh Ibrahim Musa Parabek dijadikan fokus tulisan penelitian. Dalam masa awal abad ke 20, kedelapan ulama diatas dianggap sebagai ulama yang paling berpengaruh. Setidaknya, julukan Harimau Nan Salapan memberikan bukti bahwa pengaruh mereka sangat signifikan dalam proses pembaharuan Islam di Minangkabau.
Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek pada hari Ahad 12 Syawal 1301 H., yang bertepatan dengan tahun Miladiah 1882 M. Di masa kecil diberi nama oleh orang tuanya dengan "LUTHAN". Beliau merupakan keturunan hartawan dan dikenal sebagai keluarga yang taat menjalankan syari'at agama Islam. Ayahnya, Musa bin Abdul Malik Al-Qasthawi seorang ulama yang cukup dikenal dan sangat dihormati masyarakat di Parabek. Ayahnya berasal dari suku Jambak sedangkan ibunya, Ureh, berasal dari suku Pisang. Ibrahim Musa memiliki satu orang adik perempuan bernama Kamariah dan seorang kakak bernama Abdul Malik. Ibrahim Musa Parabek atau "Luthan Kecil" mempunyai karakter yang lemah lembut, konsisten dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun, penuh pertimbangan dan tidak mau memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Drs.H. Sidi Ibrahim Bukhari, SH mengatakan : "Kelebihan Syekh Ibrahim Musa Parabek yang sangat menonjol adalah ketenangannya dalam segala hal. Tenang daiam menjawab soal, memberi pertanyaan, dan menegur segala yang salah dan janggal dalam mengajar dan berpidato. Ketenangan inilah yang membuat beliau selalu berfikir dan berhati-hati dalam mengeluarkan segala buah pikirannya. Bukti ketenangan ini dapat dilihat dari wajah beliau sendiri seperti terlihat dikulit luar Gema Islam (nama majalah yang cukup berpengaruh waktu itu: ed.) No. 38-39 yang diterbitkan tanggal 11 September 1963, tidak lama setelah beliau meninggal dunia". Ibrahim Musa memperoleh pendidikan dasar secara tradisional di beberapa tempat di Minangkabau. Mula-mula belajar membaca Al-Qur'an dengan orang tuanya sendiri sampai berumur 13 tahun, Karena melihat ketekunan dan kepribadian anaknya, maka dengan penuh semangat, orang tuanya kemudian menyerahkan Ibrahim Musa untuk menuntut ilmu ke beberapa ulama lain di Minangkabau. Ulama-ulama Minangkabau yang dikunjunginya untuk menuntut ilmu adalah Syekh Mata Air di Pakandangan. Dengan Syekh Mata Air ini, Ibrahim Musa Parabek belajar ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf (Matan Bina) selama tebih kurang satu tahun. Kemudian ia belajar juga kepada Tuanku Angin di Batipuh mengenai Ilmu Fiqh dan Matan Bina selama satu tahun. Setelah itu, belajar kepada Syekh Abdul Shamad di IV Angkat Candung (Biaro).
Bersama Syekh Abdul Shamad ini, Ibrahim Musa belajar mengenai Tafsir Al-Qur'an. Selanjutnya, ia belajar pada Syekh Jalaluddin Al-Kusai di Sungai Landai selama satu tahun dan kemudian pindah ke Talago untuk belajar pada Syekh Abdul Hamid selama dua tahun. Sebuah perjalanan keiimuan dengan segala dinamika perspektif dalam melihat "tubuh ajaran Islam itu sendiri", kelak membuat Ibrahim Musa menjadi ulama dengan memiliki kedalaman ilmu dan kebijaksanaan dalam melihat perbedaan. Sehingga tidaklah mengherankan kelak Ibrahim Musa dikenal sebagai ulama yang ahli dalam ilmu Fiqh, ilmu Alat (Bahasa Arab), Tafsir Hadits, Tajwid, Qiraat dan yang paling menonjol adalah kemampuan beliau dalam bidang kajian Ushul Fiqh dan Ilmu Nahwu Sharaf.
Kepulangan Ibrahim Musa disambut dengan antusias dan penuh harapan oleh masyarakat Parabek. Masyarakat Parabek menginginkan kepulangannya memberikan perubahan yang berarti bagi kondisi keagamaan di nagari ini. Sebagai langkah awal, Ibrahim Musa mengadakan pengajian secara berhalaqah. Pengajian yang diadakannya ini makin lama makin berkembang. Banyak murid-murid yang berdatangan dari luar daerah Parabek untuk belajar seluk beluk agama Islam kepada ulama berpenampilan tenang ini. Ibrahim Musa masih merasakan kekurangan ilmu pada dirinya. Untuk itu, pada tahun 1914 beliau berangkat kembali ke Mekkah bersama istrinya Syarifah Gani dan anaknya Thaher Ibrahim. Mereka bermukim di Mekkah selama dua tahun. Setelah mereka pulang, Ibrahim Musa kembali menata pengajian yang telah dirintisnya sebelum berangkat ke Mekkah untuk kedua kalinya. Sejak kepulangan dari Mekkah yang kedua kalinya inilah gelar Syekh dilekatkan pada Ibrahim Musa atau dengan panggilan yang lebih populer ketika itu dengan panggilan Syekh Ibrahim Musa Parabek atau Inyiak Parabek.
Hampir 20 tahun, Ibrahim Musa menuntut ilmu kepada beberapa orang ulama di Minangkabau kala itu. Akan tetapi hal ini tidak membuatnya puas. Akhimya beliau melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekkah pada tahun 1901 (1320 H) bersama kakaknya Abdul Malik. Disana ia bersama kakaknya belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, seorang ulama kharismatik asal Minangkabau yang kemampuan keilmuannya dibidang agama Islam diakui di Jazirah Arabia terutama di Mekkah. Melalui ulama yang tidak pernah mau pulang ke daerah asalnya di Minangkabau inilah Ibrahim Musa belajar tentang Ilmu Fiqh mazhab Syafii. Setelah belajar Fiqh dengan "mahaguru pembaharu Islam modemis Minangkabau awal abad ke-20" ini Ibrahim Musa kemudian melanjutkan petualangannya dalam menuntut ilmu. Ulama yang ditemuinya adalah Syekh Muhammad Djamil Djambek. Dengan Syekh Muhammad Djamil Djambek ini, ia belajar tentang seluk beluk Ilmu Falaq. Selanjutnya belajar kepada Syekh Mukhtar AI-Jawi dan Syekh Yusuf Al-Hayat. Setelah berada di Mekkah selama 7 tahun, Ibrahim Musa kembali ke kampung halamannya.
Syekh Ibrahim Musa Parabek memiliki beberapa orang istri, salah satu diantaranya adalah H. Syarifah Gani yang mendampinginya hingga ia wafat pada tahun 1963. Dari perkawinannya dengan beberapa orang istrinya, Syekh Ibrahim Musa Parabek dikarunia beberapa orang anak, diantaranya : Thaher Ibrahim (Pensiunan Departemen Perdagangan RI), Muhammad Thaib Ibrahim, Maryam Ibrahim dan lainnya. Dalam mengarungi bahtera kehidupan, para istrinya tidak menuntut begitu banyak secara ekonomi kepada Syekh Ibrahim Musa Parabek, karena Syekh Ibrahim Musa Parabek hampir seluruh waktunya berkutat pada dakwah dan gerakan pendidikan Islam yang secara ekonomis sangat tidak menjanjikan. Biasanya, keluarga para istrinya membantu dengan modal agar kesulitan ekonomi tidak begitu dirasakan. Diskusi mengenai Syekh Ibrahim Musa Parabek, kita tidak bisa melepaskan dari lembaga yang bernama Sumatera Thawalib Parabek. Lembaga ini sangat identik dengan Syekh Ibrahim Musa Parabek sebagaimana identiknya HAKA dengan Sumatera Thawalib Padang Panjang atau Rahmah el-Yunusiy dengan Diniyah Putri Padang Panjang-nya. Syekh Ibrahim Musa Parabek merupakan ulama yang tidak terfokus kepada dakwah semata, akan tetapi beliau memiliki kesadaran bahwa melahirkan pilar-pilar penyelamat Islam hanya bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan. Secara historis, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek berasal dari perkumpulan beberapa orang murid di Surau Parabek. Perkumpulan ini diberi nama Muzakaratul Ikhwan. Sebuah nama yang timbul dari pertemuan rutin dan berkala diantara para murid dibawah bimbingan Syekh Ibrahim Musa Parabek sekali seminggu. Karena kegiatan murid-murid ini makin hari makin bertambah intens dan diikuti oleh banyak murid, maka perkumpulan ini berobah menjadi Sumatera Thawalib setelah terinspirasi dengan berdirinya Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Maka pada tanggal 21 September 1921, surau Parabek yang memakai sistem belajar secara konvensional dan konservatif (sistem halaqah) dirubah menjadi sistem berkelas atau klasikal. Berdirinya lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas pelajar. Untuk itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek membuka sistem muzakarah atau diskusi secara sistematis agar murid kelak mampu hidup mandiri dan mampu untuk secara dinamis mengeluarkan pendapat dengan disertai argumen yang argumentatif. Sistem ini merupakan sistem "yang mendahului zaman" ketika itu. Sistem konvensional atau konservatif yang menekankan belajar satu arah, oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek diberi improvisasi dengan sistem muzakarah diatas.
Disamping itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga mentradisikan latihan olah raga, mengajar murid-murid dalam manajemen dan kewiraswastaan melalui koperasi dan membuat perpustakaan untuk mengkondisikan agar murid-murid rajin membaca. Untuk memperkuat kemampuan argumentasi murid lembaga Sumatera Thawalib Parabek ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga membuka debating club, sebagai wahana murid-murid memberikan apresiasi terhadap perbedaan-perbedaan pendapat. Kemudian Syekh Ibrahim Musa Parabek juga meningkatkan pengembangan potensi para murid Sumatera Thawalib Parabek dibidang estetika dengan membentuk grup fonil atau sandiwara. Syekh Ibrahim Musa Parabek juga menanamkan kepada murid-muridnya untuk tidak taqlid pada satu mazhab saja. Tidak menganggap sebuah perspektif sebagai perspektif yang paling benar. Syekh Ibrahim Musa Parabek mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak memakai "kaca mata kuda". Dalam setiap kesempatan, Syekh Ibrahim Musa Parabek selalu mengatakan "ambillah yang lain sebagai studi perbandingan". Ini tersirat sebuah anjuran bahwa pendapat yang kita miliki harus kita pertahankan secara argumentatif, sedangkan pendapat lain tidak harus kita mentahkan, akan tetapi harus kita jadikan sebagai perbandingan karena dari pendapat tersebut kita bisa belajar tentang kelebihan dan kekuranagan pendapat kita, demikian kata Syekh Ibrahim Musa Parabek.
Dalam proses pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek, Syekh Ibrahim Musa Parabek langsung mengontrol perkembangan lembaga pendidikan ini. Ia berkeinginan agar para murid-muridnya serius dalam mengikuti pelajaran, oleh karena itu secara kelembagaan, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib harus "serius" pula dalam mengelola lembaga ini. Secara kuantitas, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib tidak disangsikan lagi. Banyak murid-murid yang berdatangan ke Parabek untuk menuntut ilmu. Ketenangan dan keterkenalan ilmu dan pribadi Syekh Ibrahim Musa Parabek menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menarik para murid-murid untuk belajar di lembaga ini. Secara kualitas, Sumatera Thawalib Parabekpun cukup baik. Hal ini terlihat dari output lembaga pendidikan ini yang mampu melahirkan ulama-ulama besar seperti Prof.DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Mantan Ketua MUI dan ulama besar Indonesia, Mansoer Daud Dt. Palimo Kayo (Mantan Ketua MUI Sumatera Barat), Tamar Jaya (Pengarang religius terkenal), HM. Yunan Nasution (Tokoh Muhammadiyah, Muballigh Nasional clan mantan Ketua Majelis Dakwah Islamiyah), Adam Malik (Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia) dan banyak lagi tamatan dari Sumatera Thawalib Parabek yang "menjadi orang", minimal dikampung halaman mereka. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, Sumatera Thawalib Parabek berusaha untuk cenderung beradaptasi dengan perkembangan zaman selagi tidak mencabut substansi dan filosofi lembaga tersebut. Dalam perjalanannya, lembaga Sumatera Thawalib Parabek telah mengalami berbagai perubahan dan adaptasi sistem pendidikan. Tujuan dari adaptasi dan perubahan sistem pendidikan ini adalah agar output lembaga ini mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan tantangan dari lingkungan dan zamannya.
Sebagaimana yang telah dipaparkan secara ringkas diatas, pada awalnya sistem pendidikan di Sumatera Thawalib pada awalnya berbentuk sistem halaqah (duduk berapak dalam istilah Minangkabau) yaitu duduk bersila melingkari guru. Sistem ini berlangsung sampai tahun 1921. Pada tanggal 21 September 1921, sistem ini dirobah menjadi sistem klasikal, sekaligus menetapkan secara resmi surau Parabek menjadi Sumatera Thawalib Parabek. Rentang waktu belajarpun tidak ditetapkan secara konvensional (tamat apabila guru yang mengajar menganggap murid sudah pandai) akan tetapi ditetapkan berdasarkan rentang waktu dan tingkat kelas. Pada awalnya, lama belajar di Sumatera Thawalib Parabek ditetapkan selama 8 tahun, kemudian dirobah menjadi 7 tahun. Pendidikan terdiri atas dua jenjang pendidikan, yaitu tingkat Tsanawiyah dengan tahun ajaran selama 4 tahun dan tingkat 'Aliyah selama 3 tahun. Pada tanggal 16 Oktober 1940 sebagai lanjutan dan pengembangan dari Sumatera Thawalib, didirikan Kulliyah Ad-Diniyah yang bertahun ajaran selama 4 tahun. Hal ini hanya berlangsung sampai tahun 1943. Kemudian secara berangsur-angsur, Kulliyah Ad-Diniyah menciut dan menghilang, akan tetapi namanya tetap melekat yang kemudian dipakai kembali. Pada tahun 1950 hingga 1979, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dirobah menjadi 4 tahun pertama disebut tingkat Tsanawiyah dan 3 tahun kedua disebut Kulliyah A-Diniyah. Sejak tahun 1979, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek mulai berintegrasi secara terbatas dengan Madrasah Negeri.
Syekh Ibrahim Musa Parabek dalam "posisi"nya sebagai salah seorang yang dianggap sebagai ulama pembaharu di Minangkabau dan salah seorang yang diletakkan dalam kubu "Kaum Muda" lebih menitikberatkan pembaharuan Islam melalui media pendidikan dan oposisi terhadap tarikat. Beliau beranggapan bahwa pembaharuan Islam akan bisa dilaksanakan apabila pemikiran harus diperbaharui terlebih dahulu. Memperbaharui pemikiran bukan berarti merubah pola pikir secara keseluruhan, akan tetapi bagaimana umat Islam Minangkabau mampu menyerap semangat dan api Islam, bukan hanya terfokus kepada simbol-simbol. Maka jalan yang paling efektif untuk memperbaharui pemikiran tersebut adalah memperbanyak kalangan terdidik. Untuk itu, untuk mewujudkan hal ini menurut Syekh Ibrahim Musa Parabek, media pendidikan memegang posisi penting. Untuk mensosialisasikan pemikiran-pemikirannya, Syekh Ibrahim Musa Parabek menggunakan media tulis berupa majalah Al-Munir. Dalam majalah ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek mengasuh rubrik tentang tanya jawab. Disamping menggunakan media tulis, beliau juga melaksanakan dakwah keliling.
Mengenai substansi pembaharuan Islam, walaupun secara eksplisit Syekh Ibrahim Musa Parabek menyatakan tidak setuju bila gerakan pembaharuan dikaitkan atau diidentikkan dengan pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, namun secara implisit bila dilihat dari sistem pengajaran di Sumatera Thawalib Parabek terutama buku-buku yang dipakai dan yang diajarkan kepada para murid, jelaslah beliau cenderung memberikan apresiasi yang cukup besar terhadap pemikiran ulama Timur Tengah tersebut. Buku-buku karangan Muhammad Abduh seperti Risalah Tauhid dan Tafsir AI-Manar menjadi bacaan favorit dan bahkan menjadi bacaan yang dianjurkan di lembaga yang beliau pimpin. Agaknya yang tidak disetujui oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek terhadap pemikiran Muhammad Abduh terletak pada radikalisasi gerakan atau aksi yang dijalankan di Mesir sebagai pengejawantahan pemikiran Muhammad Abduh ini. Syekh Ibrahim Musa Parabek, sebagaimana yang telah disinggung diatas, merupakan ulama yang cukup kompromis mengenai prinsipnya dalam beragama selagi tidak menggerogoti pondasi kunci agama atau dalam istilah lain, tidak menggoyahkan tauhid umat Islam. Syekh Musa Ibrahim Parabek pada prinsipnya tidak menginginkan adanya pertentangan tajam antara Kaum Muda dengan Kaum Tua.
la selalu mengatakan bahwa pendapat orang lain belum tentu salah, seandainya pendapat orang lain tersebut salah, maka kita bisa mengambilnya sebagai bahan perbandingan untuk melihat dan memperkuat keyakinan kita bahwa pendapat kita adalah benar. Atau sebaliknya, mengambil pendapat orang lain untuk melihat kesalahan-kesalahan yang terdapat da1am pendapat kita. la berusaha mampu berdiri "netral" diantara dua kubu ini, walaupun sebenarnya beliau berada dalam kubu Kaum Muda. Dalam wadah organisasl Kaum Muda, Syekh Ibrahim Musa Parabek punya peranan yang cukup signifikan sebagai inti wadah organisasi Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) yang bercita-cita untuk memajukan pendidikan Islam dan mengangkat derajat guru agama. Disamping itu, beliau dikenal sebagai ulama yang oposisi terhadap tarikat. Dalam perspektifnya, tarikat potensial mengkondisikan timbulnya kemandegan dalam ajaran Islam. Tariqat dianggap mampu melahirkan sifat syirik dalam ritual ibadat. Dalam konteks ini, ia memformulasikan gerakan pembaharuan Islamnya kedalam tiga formulasi, yaitu : Mengadakan pengajian dengan cara pemecahan persoalan-persoalan agama, dalam hal ini juga mencakup soal ibadah dan muamalah. Somber utama untuk melakukan pemecahan persoalan-persoalan agama tersebut adalah AI-Qur"an. Mengadakan diskusi-diskusi atau muzakarah sekali seminggu dan acara ini dihadiri oleh masyarakat Parabek. Mengadakan musyawarah antara alim ulama dan cerdik pandai se-Banuhampu untuk menetapkan beberapa hukum tentang perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada syiri'. Sebagai seorang ulama pembaharu, Syekh Ibrahim Musa Parabek dikenal sebagai ulama yang rajin menulis terutama tentang gerakan pembaharuan Islam khususnya "jawaban" Islam terhadap perkembangan dan praktek Islam di Minangkabau. Tulisan-tulisan beliau berserakan di Majalah Al-Munir.
ibrahim musa
Sejarah Ringkas Pendiri Madrasah Sumatera Thawalib
http://thawalibparabek.tripod.com/ibrahim.htm
Syekh Ibrahim Musa Parabek lahir tanggal 12 Syawal 1301 H/1884 M di Desa Parabek . Banuhampu, Bukittinggi. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al Qarhawy, seorang Ulama yang terkenal di kampungnya Karatau, Parabek. Ibu Ibrahim bernama Ureh. Sejak kecil Ibrahim telah belajar Qur'an di bawah bimbingan ayahnya. Pada usia 13 tahun ia sudah Khatam Qur'an.
Pada usia yang masih muda itu juga beliau dilepas orang tuanya pergi mengaji ke Surau Tuanku Mato Aia Pakandangan Pariaman. Di sana beliau mempelajari Ilmu Nahwu dan Sharaf. Selanjutnya pindah ke Batu Taba di surau Tuanku Mato Angin, beliau belajar Fiqih . Kemudian ke Ladang Laweh mengaji dengan Tuanku Abdul Samad di surau Biaro Ampek Angkek. Juga beliau belajar dengan Syekh Jalaluddin Alkasai di Sungai Landai Banuhampu. Terakhir beliau belajar dengan Tuanku Abdul Hamid di Suliki Paya Kumbuh.
Dalam usia 19 tahun beliau berangkat ke Mekah untuk mendalami Ilmu agama bersama kakaknya Abdul Malik tepatnya di bulan Rajab th 1320 H/ 1901 M. Di Mekah beliau mengaji pada syekh Ahmad Khatib Al Minang Kabawy (1815 - 1915), yang menjadi imam masjidil haram dari mazhab Syafei. Beliau juga dibimbing oleh Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ali Bin Husein, Syekh Mukhtar Al-Jawi dan Syekh Yusuf Al Hayat.
Sekembalinya beliau dari Mekah yang pertama tahun 1910 M beliau mengadakan pengajian secara halaqah di Parabek. Anak muda pun berdatangan ke Parabek ingin menuntut Ilmu kepada beliau, baik dari daerah - daerah di Minangkabau.
Pada tahun 1914 beliau pergi ke Mekah kali yang kedua untuk menambah Ilmunya bersama istri beliu Syarifah Ghani dan anak beliau Thaher Ibrahim. Beliau pulang ke Bukittinggi tahun 1916. Sementara kepergian beliau ke Mekah selama dua tahaun dua tahun itu, beliau mempercayakan pengajian di Parabek kepada murid - murid beliau .
Pada tahun 1918 beliau menyatukan murid - muridnya itu dalam satu organisasi diberi nama Muzakaratul Ikhwan dan terakhir diberi nama Jamiatul Ikhwan.
Akhirnya pada tahun dua puluhan, bersama sama dengan Dr. Syekh H. Abdul Karim Amarullah ( Inyiak De-er ), beliau sepakat mendirikan Sumatera Thawalib. Di Padang Panjang didirikan oleh Inyiak De-er, sedangkan di Parabek didirikan oleh beliau sendiri dan diubahlah organisasi pelajar Jamiatul Ikhwan menjadi Sumatera Thawalib .
Pada awal tahun 1926 membangun gedung Sumatera Thawalib Parabek 7 lokal. Sistim pendidikan yang dikembangkan oleh Syekh Ibrahim Musa menekankan kepada kemandirian murid - murid dalam berbagai lapangan kehidupan dan untuk menunjang proses pendidikan itu didirikanlah perpustakaan, koperasi, asrama , lapangan olah raga dan lainnya. Juga beliau tidak pernah menekankan pada muridnya untuk mengikuti mazhab Syafi'I. Beliau memberikan kebebasan pada murid - muridnya untuk memilih satu mazhab .
Profil Syekh Ibrahim Musa tercium oleh pihak kolonial beliau terus ditekan dan dicurigai ruang gerak oleh kolonial beliau ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia beliau adalah anggota pendiri Lasykar rakyat di Bukittinggi ( 1943 ) dan membentuk barisan Sabilillah ( 1946 ) menjadi Imam Jihad 1946.
Di bidang pemerintahan beliau adalah anggota majelis Syura Wal Fatwa Sumatera Tengah ( 1947 ) dan anggota korespondensi majelis pertimbangan kesehatan dan syarak kementrian kesehatan RI. Pada tahun 1956 beliau menjadi anggota konstituanti no 160. Tahun 1956, beliau merupakan ketua dewan Karatau dan dosen perguruan tinggi Darul Hikmah Bukittinggi dan Dewan Korator Universitas Andalas Padang.
Pada hari Kamis 20 Juli 1963 pukul 21.10 Wib. Syekh Ibrahim Musa berpulang ke rahmatullah di kamar depan rumah beliau di parabek dikebumikan besok harinya Jumat tanggal 26 Juli 1963 setelah shalat jumat seluruh kaum kerabat dan keluarga besar Sumatera thawalib Parabek melepas dengan duka cita yang mendalam.
Karya-Karya
Di tengah kesibukan mengajar dan kegiatan yang bersifat organisatoris serta kemasyarakatan, Inyiak Parabek menyempatkan diri untuk menulis. Tulisan beliau banyak diterbitkan oleh majalah-majalah terbitan Sumatera Barat kala itu, seperti majalah al-Munir, Al-Munir el-Manar, dan Majalah Bayan (di bawah bimbingan beliau sendiri). Juga ada karya dalam bentuk buku (kitab), sbb:
* Ijabah al-Sul, Dicetak pada tahun 1934 oleh percetakan Badezt di Padang Panjang. Ijabah al-Sul merupakan syarah (penjelasan) kitab Husnul al-Ma'mul, karangan M. Shiddiq Hasan Khan Bahadir, kitab Ushul Fiqh yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga untuk memahaminya diperlukan pengetahuan ushul fiqh yang baik.
* Hidayah as-Shibyan, Merupakan Kitab ilmu Balaghah. Dicetak oleh percetakan Baroe Fort de Kock, tidak dijelaskan tahun terbitnya. Kitab ini pernah diajarkan di Thawalib Parabek beberapa periode, sebelum diganti dengan kitab-kitab lain yang lebih ringkas dan lebih mudah dipelajari
* Hidayah Ditulis pada tahun 1912 dalam bahasa Minangkabau, kemudian dterjemahkan oleh murid Inyiak, Muchtar Said (sekarang adalah Pimpinan Madrasah). Berisikan ilmu tauhid aliran Ahlu Sunnah wal Jamaah.
SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH SUMATERA BARAT
http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/message/470
e. Sekolah Thawalib
Sistem pendidikan surau masih tetap dilanjutkan, walaupun telah terjadi pembaharuan dalam pendidikan Islam. Namun demikian ada juga beberapa buah surau yang tidak mau ketinggalan dengan perkembangan madrasah. Surau pertama yang telah memakai sistem kelas dengan mempergunakan meja, kursi, papan tulis dan alat bantu pelajaran adalah surau Jembatan Besi di Padang Panjang.
Surau Jembatan Besi didirikan pada tahun 1914 oleh Syekh H. Abdullah Ahmad, Syekh Abdul Karim Amarullah atau yang lebih terkenal dengan nama Haji Rasul ikut menjadi guru. Setelah Syekh Abdullah Ahmad pindah ke Padang, Haji Rasul mengantikan sebagai pimpinan Surau Jembatan Besi yang membawa banyak perubahan atau pembaharuan. Pada tahun 1915 pada Surau Jembatan Besi didirikan Koperasi Pelajar atau inisiatif Haji Habib, dan setahun kemudian koperasi itu diperluas lagi oleh Haji Hasyim.
Dengan didirikannya sebuah koperasi pada Surau Jembatan Besi kelihatanlah bahwa surau tersebut mempunyai sifat terbuka dan mau menerima sesuatu yang baru, karena pengaturan koperasi sudah dipengaruhi oleh pengetahuan Barat. Tetapi karena koperasi dianggap berguna dan menguntungkan, maka gagasan pendirian koperasi itu dapat diterima. Pada waktu itu koperasi merupakan sesuatu yang baru pada lembaga yang dikelola oleh Islam.
Pada tahun 1913 Zainuddin Labai AL-Yunusi kembali ke Padang Panjang setelah menuntut ilmu dengan Syekh Abbas Padang Japang, Payakumbuh. Zainuddin Labai AL-Yunusi juga ikut menyumbangkan tenaganya sebagai guru pada surau tersebut dan tahun 1915 dia mendirikan Sekolah Diniah. Terpengaruh oleh sistem pendidikan yang dipergunakannya pada sekolah Diniah, maka dengan persetujuan Haji Rasul, Zainuddin labai AL-Yunusi mengajak pelajar-pelajar Surau Jembatan Besi membentuk suatu perkumpulan yang dinamakan "Makaraful Ichwan", untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam dan berusaha menyelesaikan masalah Agama secara ilmiah dan persahabatan antara sesama penganut agama Islam.8)
Pada tahun 1918 Zainuddin Labai AL-Yunusi, Jalaluddin Thaib dan Injiak Mandua Basa merubah nama Koperasi Pelajar Jembatan Besi dengan nama "Sumatera Thawalib" dengan memperluas ruang lingkup kegiatannya. Perubahan nama ini sekaligus merubah nama Surau Jembatan Besi menjadi nama Sumatera Thawalib. Perubahan nama tersebut diilhami oleh organisasi pemuda "Jong Sumatranen Bond" yang waktu itu sudah membuka cabangnya di Bukittinggi dan Padang, sedangkan Sumatera Thawalib juga berarti Organisasi Pelajar Sumatera.
Setelah Surau Jembatan Besi mengalami banyak perubahan dan pembaharuan, maka pada tahun 1918 Haji Rasul memperkenalkan sistem kelas pada Sumatera Thawalib dan semenjak itu sistem pendidikan surau yang selama ini dianut oleh Surau Jembatan Besi sudah berubah menjadi Sumatera Thawalib yang mempergunakan sistem sekolah. Sesudah sistem pendidikannya berubah, maka Haji Rasul menyusun kembali kurikulum, metode mengajar, dan buku yang akan dipergunakan pada Sumatera Thawalib dengan memasukkan mata pelajaran umum.
Sementara itu Surau Parabek yang didirikan oleh Syekh lbrahim Musa yang bergerak ke arah pembaharuan dalam bidang pendidikannya yang di ikuti pula oleh beberapa surau lainnya.
Pada tanggal 15 Januari 1919, dengan mengambil tempat di surau Syekh Muhammad Jamil Jambek Tengah Sawah di Bukittinggi diadakan pertemuan antara pelajar Sumatera Thawalib dengan pelajar Parabek. Hasil pertemuan ini adalah dibentuknya sebuah persatuan antara kedua pelajar lembaga pendidikan itu, yang dinamai "Sumatera Thawalib", dengan tujuan memperdalam ilmu dan mengembangkan agama Islam.
Pada tahun 1921 Syekh lbrahim Musa Prabek memperkenalkan sistem madrasah pada Surau Parabek seperti yang dilaksanakan pada Sumatera Thawalib dan semenjak itu surau Parabek sudah berubah namanya menjadi Sumatera Thawalib Parabek. Selanjutnya surau di Padang Japang, Maninjau, dan Batusangkar juga merubah nama dengan Sumatera Thawalib seperti yang dilakukan oleh Surau Jembatan Besi dan Surau Parabek.
Sementara itu pengaruh Pergerakan Nasional Indonesia sudah terasa di Sumatera Barat. Pengaruh itu bukan saja di kalangan politisi, tetapi juga memasuki lembaga pendidikan yang sudah melaksanakan pembaharuan. Pengaruh ini membawa perubahan dalam memperbaiki kehidupan lembaga pendidikan di Sumatera Barat.
Pengaruh Pergerakan juga masuk ke tubuh Sumatera Thawalib terutama dengan tersebarnya sekolah Sumatera Thawalib di daerah Sumatera Barat yang mendorong pelajar untuk membentuk suatu organisasi yang dapat mempersatukan seluruh pelajar. Pada tanggal 22 Januari 1922, atas undangan pelajar Sumatera Thawalib Padangpanjang diadakan pertemuan antara wakil seluruh sekolah Sumatera Thawalib. Pertemuan itu memutuskan membentuk satu kesatuan organisasi pelajar Sumatera Thawalib di bawah satu Dewan Pusat dengan cabangnya di daerah-daerah. Kesatuan pelajar itupun dinamakan Pesatuan Pelajar Sumatera Thawalib dan pusat kegiatannya terdapat di Padang Panjang.
Dengan adanya organisasi pelajar Sumatera Thawalib, maka mulai tahun 1923 terlihat perkembangan baru. Sumatera Thawalib yang selama ini hanya bergerak di bidang pendidikan mulai ikut politik yang menyebabkan pengurusan ini ditutup Belanda.
Semenjak lahirnya Sumatera Thawalib dari sistem pendidikan surau, terlihat beberapa pembaharuan yang telah dilaksanakan seperti:
1) Merubah sistem surau (halaqah) menjadi sistem sekolah.
2) Memperpendek masa belajar yang berkepenjangan pada sistem surau dengan beberapa tahun ajaran.
3) Mengatur penyajian pelajaran sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkembangan berfikir anak-anak.
4) Mengatur buku yang akan dipakai pada kelas tertentu, tidak lagi memberikan buku yang tebal untuk anak.
5) Mengatur guru menurut keahlian masing-masing dan guru hanya mengajar sesuai dengan keahliannya itu, tidak dapat lagi seorang guru mengajar untuk semua mata pelajaran seperti pada sistem surau.
6) Mengatur jadwal pelajaran dalam satu daftar pelajaran yang tetap dan guru harus menyesuaikan waktu mengajarnya dengan daftar tersebut, guru tidak boleh lagi mengajar menurut kemampuannya.
7) Memungut uang muka untuk masuk sekolah dan memungut uang sekolah per bulan.
8) Mengatur honorarium guru dan petugas sekolah lainnya seperti penjaga sekolah.
9) Mengadakan tenaga administrasi yang akan melola administrasi sekolah tersebut.
Sistem ini sebelumnya juga telah dilakukan oleh Sekolah Adabiah dan Sekolah Diniah pembaharuan dilaksanakan pada sekolah yang baru sama sekali, artinya dibuat sekolah baru untuk melaksanakan pembaharuan itu. Sumatera Thawalib melakukan sistem baru itu pada sekolah yang sudah ada dalam bentuk surau dengan murid yang sudah ada pula yang sebelumnya sudah mendapat pendidikan dengan sitem surau. Sumatera Thawalib sekaligus juga merubah sikap dan cara berfikir muridnya, suatu hal yang pada waktu itu sangat sukar dilakukan mengingat banyak murid yang fanatik terhadap yang pernah dimilikinya dan sukar merubah kebiasaannya.
Sumatera Thawalib dapat melakukan perubahan sistem pendidikan, karena semangat pengarahan telah masuk ke Sumatera Barat dan mempengaruhi Sumatera Thawalib. Murid maupun guru Sumatera Thawalib mendapat dorongan untuk segera mendapat ilmu pengetahuan yang banyak dalam waktu yang singkat untuk disumbangkan kepada pergerakan kebangsaan. Kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan sangat meningkat pada Sumatera Thawalib, sehingga gagasan pembaharuan yang masuk ke Sumatera Thawalib mendapat sambutan hangat
Guru Sumatera Thawalib seperti Haji Rasul, Zainuddin Labai AI-Yunusi, Haji Hasyim, Haji Habib, Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, dan lain-lain bukanlah orang yang fanatik, mereka adalah orang yang terbuka dan suka menerima pembaharuan, serta luas pandangannya. Menurut mereka untuk memperbaiki kehidupan dengan cepat dan tepat adalah melalui pembaharuan pendidikan.
Pada tahun 1918 majalah AI-Munir yang didirikan oleh Syekh H. Abdullah Ahmad di Padang sudah berdiri pula cabangnya di Sumatera Thawalib. Kantor majalah AI-Munir penuh dengan surat kabar dari seluruh Indonesia sebagai balasan pengiriman majalah AI-Munir. Di kantor AI-Munir itulah berkumpul murid Sumatera Thawalib bersama gurunya di waktu senggang untuk membaca surat kabar. Hal ini mempercepat luasnya pandangan mereka, baik mengenai situasi pendidikan, maupun mengenai situasi politik dalam dan luar negeri. Keadaan itu masih ditambah lagi dengan seringnya dilakukan diskusi di kantor tersebut yang menyebabkan penglihatan mereka semakin tajam terhadap suasana yang sedang mereka hadapi.
Suasana yang demikian didukung pula dengan adanya penerbitan beberapa surat kabar dan majalah pada beberapa pendidikan Sumatera Thawalib yang berada di luar Padang Panjang, seperti majalah AI-Bayan di Parabek, AI-Basyar di Batusangkar, Al-ittqah di Maninjau dan Al-lman di Padang Panjang sendiri. Semua media itu berlomba menyiarkan agama Islam dan perkembangan baru tentang ilmu pengetahuan. Keadaan itu menyebabkan para pembacanyapun ikut menjadi orang yang suka dan haus pada pembaharuan.
Dipilihnya surau sebagai basis pembaharuan pendidikan Islam oleh tokoh muda Islam seperti Haji Rasul dengan teman-temannya bukanlah merupakan suatu hal yang kebetulan saja, melainkan memang dilakukan dengan sengaja, karena beberapa hal seperti yang dikatakan oleh Deliar Noor sebagai berikut:
1. "Anak yang mengaji dan bermalam di surau sejak usia 7 tahun mendapatkan didikan agama, sembahyang berjemaah serta membaca AI-Quran. Dengan demikian pendidikan agama itu menjadi darah daging bagi mereka sampai dewasa dan di hari tuanya, meskipun mereka sudah berpangkat tinggi kemudian harinya.
2. Anak yang mengaji di surau bergaul dengan temannya di bawah pimpinan gurunya, dengan demikian terbentuklah uchuwah Islamiah semenjak kecil.
3. Didikan surau menghasilkan pelajar yang berakhlak Islamiah.
4. Didikan surau berdasarkan ikhlas karena Allah semata dengan tidak mengharapkan gaji atau pangkat dan uang. Uang datang sendirinya dan bukan menjadi tujuan utama.
5. Didikan surau tidak terpengaruh oleh didikan Barat yang berdasarkan materialis. Sebab itu didikan surau adalah didikan asli Islam. 9)
Dengan menjadikan surau sebagai titik pangkal pembaharuan pendidikan Islam banyak masalah yang sudah dapat ditanggulangi terlebih dahulu, misalnya masalah biaya pendidikan, tempat belajar, dasar ke Islaman murid yang sudah kuat. Walaupun pendidikan surau itu berubah nama menjadi Sumatera Thawalib yang banyak terdapat di Sumatera Barat, mereka bukanlah merupakan madrasah yang bernaung pada satu induk. Banyak di antaranya yang berdiri sendiri dengan pendidikan masing-masing serta pelaksanaan yang berbeda pula, yang sama hanyalah nama saja yaitu Sumatera Thawalib. Masing-masing sekolah mempunyai kurikulum, menyusun materi pelajaran, melaksanakan metode mengajar sendiri. Sekolah itu sebelumnya memang sudah berdiri sendiri juga kebiasaan itulah yang terbawa terus. Walaupun banyak terdapat perbedaan dalam menyelenggarakan pendidikan, tetapi dalam berlomba mencari kemajuan, karang mengarang mengenai ilmu pengetahuan, Islam maupun pengetahuan umum, dan berlomba memberikan dakwah Islam kepada masyarakat tentang pembahaman pendidikan Islam.
Sekolah Sumatera Thawalib terdiri dari 7 kelas seperti pada Sekolah Diniah. Pada kelas I dan II hanya diberikan dua mata pelajaran, di kelas III sudah diberikan 6 mata pelajaran. Mulai kelas IV sudah diberikan semua mata pelajaran yang ada pada sekolah itu. Dari semua mata pelajaran, mata pelajaran agama Islam hanya terdapat 7 buah saja, diajarkan pada setiap kelas tiap tahun dengan memperbaharui buku yang dipelajari. Mata pelajaran Fikih yang dipelajari murid sekurangnya harus mem baca 7 buah buku yang berbeda pengarangnya. Walaupun sudah, ditambah dengan matapelajaran umum, kedalaman materi agama Islam tidak berkurang. Dapat dibayangkan betapa beratnya belajar pada sekolah Thawalib, tambahan lagi mulai sejak kelas tiga sudah dlajarkan ilmu Tauhid dan Tafsir.
Pada umumnya Sekolah Diniah mempergunaan buku keluaran Mesir, sedangkan Sumatera Thawalib memakai buku keluaran Mekah. Buku Mesir sudah dipengaruhi oleh pandangan baru mengenai Islam, sedangkan buku lama keluaran Mekah masih menunjukkan sifat asli Mekah, belum banyak dapat pengaruh perkembangan fikiran baru. Mengenai kedalaman pengajaran Islam, pada sekolah Sumatera Thawalib lebih mendalam dibandingkan dengan sekolah Diniah. Banyak di antara murid Sekolah Diniah yang pindah ke Sekolah Sumatera Thawalib mulai dari kelas IV atau V untuk memperdalam ilmu mereka tentang Islam. Oleh karena itu, sebahagian sekolah Diniah hanya mempunyai kelas sampai kelas IV, V, atau VI saja, sebab sesudah itu muridnya akan pindah ke Sumatera Thawalib. Hanya Sekolah Diniah di Padang Panjang yang masih tetap mempunyai kelas sampai tujuh buah. Tamatan Sumatera Thalib merupakan orang yang dalam ilmunya tentang Islam, mereka merupakan pemimpin Islam yang kuat pendiriannya dan berpegang teguh pada ajaran Islam ahli Mekkah. Sedangkan tamatan Sekolah Diniah agak kurang mendalam pengetahuan Islam, tetapi mereka merupakan pemimpin masyarakat yang luas pandangannya dan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan baru. Mereka kelihatan lebih lincah di tengah-tengah masyarakat dibandingkan dengan tamatan Sumatera Thawalib. Namun, walaupun demikian dalam kehidupan sehari-hari kedua alumni sekolah itu merupakan tokoh masyarakat yang dlikuti dan dihormati, karena mereka dapat hidup saling berdampingan dan saling mengisi sehingga masyarakat tidak begitu merasa dan melihat adanya perbedaan itu.
Tahun 1930 perbedaan itu dapat diakhiri, karena kedua sekolah tersebut sudah sama-sama membutuhkan hal yang baru terutama untuk menghadapi Belanda dalam pergerakan kebangsaan. Mereka saling bantu dalam mencari sumber baru yang akan dijadikan bahan bacaan di sekolah, karena mereka juga sadar bahwa tanpa bahan bacaan baru pengetahuan mereka akan terbatas, sedangkan pergerakan Indonesia menuntut pengetahuan yang tinggi dari putra-putrinya.
Alumni Sekolah Thawalib banyak yang terjun ke masyarakat dan menjadi pemimpin masyarakat yang diikuti dan dihormati. Tetapi pada hakekatnya bukanlah hal tersebut yang menjadi tugas pokok mereka. Kebanyakan di antaranya diangkat menjadi guru pada sekolah agama yang tersebar di Sumatera Barat.
Kebanyakan di antara mereka diangkat menjadi guru pada kelas yang rendah tingkatnya, misalnya kelas I, II, III dan IV karena pada kelas yang lebih tinggi akan diajar langsung oleh para Syekh. Di samping menjadi guru pada Sekolah Thawalib dan Sekolah Diniah dan sekolah agama, para alumni Sumatera Thawalib, dan Sekolah Diniah, tidak ada yang mengajar pada sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Sebahagian lagi ada yang membuka sekolah sendiri di kampung dan mengajar di sana serta menyatakan diri sebagai cabang dari Sumatera Thawalib di Padang Panjang.
Tamatan Sekolah Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah, tidak ada yang menganggur. Begitu mereka tamat ada-ada saja kerja yang akan menunggu mereka atau mereka ciptakan.
Murid Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah, selama belajar juga diberikan pelajaran akhlak dan cara berfikir serta hidup mandiri. Hal tersebut diberikan melalui contoh yang nyata dari kehidupan guru sehari-hari, baik di sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat. Kejujuran, ketinggian budi pekerti, kegigihan memperjuangkan kebenaran, kegigihan dalam memperjuangkan hidup, keuletan berusaha, sesuai kata dengan perbuatan, diberikan melalui contoh dalam praktek kehidupan guru sehari-hari. Murid dapat meniru teladan yang diberikan guru dan masyarakat umum, dengan contoh yang nyata. Hal itu dapat membentuk kepribadian murid yang kuat dan militan dalam segala perjuangan hidup, pantang menyerah. Jika tidak ada sekolah yang dapat menampungnya jadi guru, mereka membuka sendiri sekolah. Kemauan bekerja keras sudah dilatih semenjak berada di bangku sekolah. Menganggur mendatangkan perasaan bersalah dan berdosa kepada murid sekolah tersebut, guru maupun masyarakat.
Guru tamatan Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah mendapat sambutan dari masyarakat ke manapun mereka pergi di daerah Sumatera Barat, karena masyarakat sudah yakin betul dengan kemampuan mereka. Di samping menjadi guru mereka juga menjadi pemimpin masyarakat yang memang sudah dipersiapkan. Apa yang mereka terima di bangku sekolah sesuai dengan tugas yang mereka hadapi dalam masyarakat kemudian.
Pada awal abad ke-20 di Sumatera Barat Sekolah Adabiah, Sekolah Diniah, dan Sekolah Sumatera Thawalib merupakan pelopor di bidang pendidikan.
Walaupun sudah banyak sekolah .Islam yang mempergunakan sistem persekolahan, tidak berarti seluruh pendidikan Islam berubah semnuanya. Masih banyak sekolah yang mempergunakan sistem surau (halaqah) dalam pengelolaan pendidikan, terutama yang berada di kampung-kampung. Munculnya sistem madrasah pada pendidikan Islam tidak menghilangkan sistem surau sama sekali. Sesudah Kemerdekaan Indonesia sistem surau mulai berangsur hilang, karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus mengikuti sistem yang telah diatur oleh Pemerintah.